Kanker Rahim Dapat Dicegah
Sunday, March 30, 2008
Edit
| Kanker ekspresi rahim (serviks) menjadi kasus kesehatan di negara-negara berkembang. Di Indonesia, penderita penyakit ini diperkirakan 90 - 100 di antara 100.000 penduduk. |
| Di negara maju menyerupai Amerika, terdapat 12.000 kasus gres ditemukan pada 1990. Melihat tingginya angka penderita, maka tidak mengherankan jikalau penyakit ini merupakan momok yang angker bagi perempuan. Hal itu juga alasannya ialah serviks merupakan kanker terbanyak pada perempuan dan menduduki urutan pertama dari sepuluh jenis kanker di Indonesia. Angka penderita penyakit ini, sejatinya, sanggup ditekan jikalau lebih awal diketahui adanya kanker yang menyerang ekspresi rahim. Masalahnya, berdasarkan dr Nasdaldy, SpOG, lebih dari 70 persen penderita tiba terlambat memeriksakannya ke dokter. Padahal, keterlambatan investigasi sanggup besar lengan berkuasa pada cita-cita hidup, selain biaya yang dibutuhkan lebih besar. ''Pencegahan lebih murah,'' tuturnya dalam sebuah seminar di Jakarta, belum usang ini. Dokter seorang mahir kebidanan dan kandungan dari Divisi Kanker Ginekologik Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, ini mengakui ketika pra kanker serviks, pada umumnya memang tidak ada gejala. Gejala yang sanggup dideteksi jikalau ada pendarahan pascasenggama dan keputihan yang tidak khas. Bila terdapat keputihan berlebihan, berbau busuk, dan tidak sembuh-sembuh, sebaiknya disarankan untuk secepatnya memeriksakan diri ke dokter. Sebab, ini merupakan tanda-tanda yang lazim dijumpai pada penderita kanker serviks. Pemeriksaan dokter diperlukan, alasannya ialah tidak semua keputihan menandakan ada kanker. Dengan investigasi itu akan diketahui apakah keputihan absurd itu kanker atau bukan. Gejala lain, kata dia, terdapat perdarahan di luar siklus haid, terutama sehabis berhungan intim. Seperti juga adanya keputihan, tanda-tanda ini pun memerlukan investigasi dokter, alasannya ialah perdarahan sanggup terjadi jawaban gangguan keseimbangan hormon. Mengapa investigasi diharapkan jikalau ditemukan ada gejala? Itu alasannya ialah kanker yang sudah mencapai stadium tiga ke atas akan terjadi pembekakan di aneka macam anggota tubuh, menyerupai di paha, betis, atau di tangan. Akibatnya sanggup lebih fatal, keterlambatan penanganan sanggup menimbulkan kematian. Untuk deteksi dini, perlu dilakukan pap smear pada perempuan yang telah aktif secara seksual sedikitnya setahun sekali dengan mengambil getah serviks dari vagina. Pemeriksaan ginekologi dilakukan oleh dokter atau bidan dengan pengambil sampel apus leher rahim oleh dokter mahir patologi anatomi. Sebaiknya pap smear dilakukan pada hari ke 10 - 20 dari siklus haid. Namun, dalam 24 jam sebelum pemeriksaan, jangan melaksanakan relasi suami-istri. Risiko Apa yang menjadi faktor risiko kanker ekspresi rahim? Menurut dr Nasdaldy, perempuan yang sudah menikah atau memulai acara seksual pada usia muda (kurang dari 18 tahun) mempunyai risiko terkena kanker ekspresi rahim. Risiko yang sama sanggup dialami oleh perempuan yang berganti-ganti pasangan seks. Yakni, perempuan yang mempunyai banyak pasangan seks atau suaminya mempunyai banyak pasangan seks. Mereka yang berisiko terkena kanker rahim lainnya ialah perempuan yang sering menderita benjol di kawasan kelamin, yang banyak melahirkan anak, dan perempuan perokok. ''Wanita perokok mempunyai risiko dua kali lebih besar dari pada perempuan bukan perokok,'' tuturnya. Pencegahan Mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati. Itu benar, meski tidak gampang menerapkannya. Masalahnya, masih banyak perempuan yang enggan memeriksakan diri ke dokter kandungan meskipun mempunyai aneka macam tanda-tanda terkena kanker ekspresi rahim. Padahal, jangankan perempuan sudah mempunyai tanda-tanda terkena servick, perempuan yang sehat pun perlu memeriksakan diri semoga sanggup dideteksi semenjak dini. Pencegahan, berdasarkan Nasdaldy, sanggup dilakukan dengan tiga strategi: primer, sekunder, dan tertier. Pencegahan primer diharapkan pada semua populasi yang mempunyai risiko terkena kanker ekspresi rahim. Caranya, dengan menunjukkan penyuluhan. ''Bukan hanya medis, tapi sanggup di sekolah-sekolah alasannya ialah banyak yang tidak tahu dan tidak peduli,'' tuturnya. Pencegahan sekunder juga diharapkan pada orang yang tidak mempunyai gejala. Ini semoga angka insiden sanggup ditekan dan memungkinkan pengobatan sedini mungkin. Pengobatan lebih awal, selain biayanya sedikit, akhirnya pun lebih baik. Sedangkan pencegahan tertier dilakukan pada orang yang sudah terkena penyakit ini. Ada beberapa hal yang sanggup dilakukan untuk pencegahan primer pada penderita serviks. Namun yang penting ialah menurunkan faktor risiko. Misalnya, menghilangkan sikap seksual yang menimbulkan terpapar dengan benjol human papilloma virus (HPV). ''Perempuan lebih rentan terkena benjol HPV,'' ujarnya. Tidak kalah pentingnya dengan faktor nutrisi. Menurut dokter seorang mahir ini orang dengan gizi yang cantik lebih gampang mencegah serangan penyakit ini. Harus diingat, tidak ada pantangan makanan bagi penderita kanker. Karena itu tidak benar pernyataan yang menyampaikan bahwa penderita kanker dihentikan makan daging. ''Itu mitos,'' ucapnya. Zat gizi, kata dia, sangat diharapkan untuk pencegahan penyakit ini. Makanan yang baik untuk dikonsumsi ialah caretenoids, vitamin A, retinoids, vitamin C, vitamin E, dan folat. Sayuran hijau renta dan kuning juga baik untuk meningkatkan gizi. Selain menurunkan faktor risiko dan nutrisi, pencegahan primer juga perlu dengan vaksinasi. Imunisasi, kata Nasdaldy, dilakukan pada usia muda sebelum aktif melaksanakan relasi seksual dan masih dalam tahap pengembangan. Vaksin pencegahan bertujuan membentuk antibodi dan diberikan pada orang sehat. Vaksin pengobatan diberikan pada orang yang sudah terinfeksi HVP dan stimulasi sistem imunitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan, vaksin sebaiknya diberikan pertama kali dalam lima tahun sehabis aktif bekerjasama seksual atau usia 25 tahun hingga usia 65 tahun. Frekuensi vaksinasi, saran tubuh dunia itu, dilakukan 2 - 3 tahun sekali dengan catatan dua kali berturut-turut negatif. |