Cegah Glaukoma Dengan Deteksi Dini
Sunday, March 30, 2008
Edit
| Berbeda dengan katarak, masyarakat mungkin belum erat dengan penyakit glaukoma, padahal keduanya sama-sama menyerang mata dan menimbulkan kebutaaan. |
| Bedanya, penglihatan akhir katarak masih dapat dipulihkan dengan operasi, sedangkan glaukoma menimbulkan kebutaan sepanjang hayat. Satu-satunya cara pencegahan yang dapat dilakukan yaitu melaksanakan deteksi sedini mungkin. Menurut dr.Ikke Sumantri, SpM, dari Glaucoma Center JEC, penyakit glaukoma terjadi akhir adanya tekanan mata atau tekanan intra ocular yang tinggi sehingga si penderita mengalami kerusakan serabut syaraf mata yang mengakibatkan kehilangan lapang pandang (skotoma). "Bila tekanan ini terjadi terus menerus, seluruh serabut syaraf akan rusak, kesudahannya yaitu kebutaan total," paparnya. Di Indonesia, angka kebutaan mencapai 1,5 persen dari seluruh penduduk. Glaukoma merupakan penyebab kedua terbesar (0,2 persen) sehabis katarak. Berbeda dengan katarak yang dapat disembuhkan lewat operasi, pengobatan dan tindakan operasi yang dilakukan pada pasien glaukoma hanya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut. Pada umumnya glaukoma tidak diawali dengan tanda-tanda khusus, sehingga banyak terjadi kasus di mana pasien terdeteksi telah menderita kerusakan mata serius. Meski begitu, berdasarkan dr.Iwan Soebijantoro, SpM, ada beberapa tanda-tanda yang mesti diwaspadai. "Keluhan fisik yang sering dijumpai yaitu rasa pusing terus menerus, rasa mual dan muntah, penglihatan mendadak buram atau melihat pelangi. Segeralah periksa ke dokter mata kalau terjadi tanda-tanda ini," Menurut Iwan, gejala-gejala tersebut biasanya terjadi lantaran tekanan bola mata sudah terlalu tinggi. Ukuran tekanan bola mata yang normal yaitu 10-20 mmHg. Tekanan di atas normal ini akhir cairan dalam bola mata yang berada di bilik mata depan tidak lancar mengalir keluar. Tekanan bola mata tersebut secara mekanik akan menekan serabut saraf mata sehingga terjepit. Deteksi dini Mengingat hilangnya penglihatan secara permanen yang disebabkan oleh glaukoma, sebaiknya setiap orang memperhatikan kesehatan matanya dengan cara melaksanakan pengukuran tekanan bola mata secara rutin, terutama bagi orang yang usianya di atas 40 tahun. Faktor risiko lain yang perlu diwaspadai yaitu mereka yang mempunyai riwayat keluarga penderita glaukoma, mata minus tinggi atau plus tinggi (miopia), serta penderita penyakit sistemik menyerupai diabetes atau kelainan vaskular (jantung). Pemeriksaan mata rutin yang disarankan oleh dokter yaitu setiap enam bulan sekali, khususnya bagi orang dengan risiko tinggi. Menurut Iwan, untuk mengukur tekanan bola mata, dokter akan melaksanakan tes lapang pandang mata. "Tes ini tidak dapat dilakukan sembarangan, harus dengan alat. Yang diukur pun bukan cuma tekanan mata saja tetapi juga mengukur berapa kerusakan mata yang diderita," ujarnya. |