Awas Stroke, Selimuti Badan Anda Dengan Murbei
Tuesday, April 1, 2008
Edit
Kasus stroke meningkat di negara maju menyerupai Amerika dimana kegemukan dan junk food telah mewabah. Berdasarkan data statistik di Amerika, setiap tahun terjadi 750.000 kasus stroke gres di Amerika. Dari data tersebut memperlihatkan bahwa setiap 45 menit, ada satu orang di Amerika yang terkena serangan stroke.
Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Kecenderungannya menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta sanggup mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.
Tidak sanggup dipungkiri bahwa peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan wabah kegemukan akhir contoh makan kaya lemak atau kolesterol yang melanda di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan sesudah jantung dan kanker. Bahkan, berdasarkan survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia.
Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan hingga sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur.
Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan janjkematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi lantaran berkurangnya pedoman darah dan oksigen ke otak. WHO mendefinisikan bahwa stroke yakni gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.
Mengenali Jenis-jenis Stroke
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemorragik. Pada stroke iskemik, pedoman darah ke otak terhenti lantaran aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini.
Pada stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat pedoman darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu tempat di otak dan merusaknya. Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi pada penderita hipertensi.
Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung.
Suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga mengakibatkan berkurangnya pedoman darah. Keadaan ini sangat serius lantaran setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memperlihatkan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.
Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat lantaran adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, contohnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang gres menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).
Emboli lemak jarang mengakibatkan stroke. Emboli lemak terbentuk kalau lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam pedoman darah dan karenanya bergabung di dalam sebuah arteri.
Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi mengakibatkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan mengakibatkan stroke.
Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa mengakibatkan berkurangnya pedoman darah ke otak, yang biasanya mengakibatkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi kalau tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi kalau seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak lantaran cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.
Ketahui Faktor Risiko Stroke
Penyakit atau keadaan yang mengakibatkan atau memperparah stroke disebut dengan Faktor Risiko Stroke. Penyakit tersebut di atas antara lain Hipertensi, Penyakit Jantung, Diabetes Mellitus, Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Keadaan yang sanggup mengakibatkan stroke yakni usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa (negro/spanyol), jenis kelamin (pria), kurang olah raga.
Membaca Gejala Stroke
Sebagian besar kasus stroke terjadi secara mendadak, sangat cepat dan mengakibatkan kerusakan otak dalam beberapa menit (completed stroke). Kemudian stroke menjadi bertambah jelek dalam beberapa jam hingga 1-2 hari akhir bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution).
Perkembangan penyakit biasanya (tetapi tidak selalu) diselingi dengan periode stabil, dimana ekspansi jaringan yang mati berhenti sementara atau terjadi beberapa perbaikan. Gejala stroke yang muncul pun tergantung dari penggalan otak yang terkena.
Membaca isyarat stroke sanggup dilakukan dengan mengamati beberapa tanda-tanda stroke berikut:
Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh.
Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran.
Penglihatan ganda.
Pusing.
Bicara tidak terang (rero).
Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat.
Tidak bisa mengenali penggalan dari tubuh.
Pergerakan yang tidak biasa.
Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.
Ketidakseimbangan dan terjatuh.
Pingsan.
Kelainan neurologis yang terjadi akhir serangan stroke bisa lebih berat atau lebih luas, berafiliasi dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa mengakibatkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi.
Stroke juga bisa mengakibatkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya lantaran ruang dalam tengkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas.
Mendiagnosis Stroke
Diagnosis stroke biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil investigasi fisik. Pemeriksaan fisik sanggup membantu memilih lokasi kerusakan pada otak. Ada dua jenis teknik investigasi imaging (pencitraan) untuk mengevaluasi kasus stroke atau penyakit pembuluh darah otak (Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed Tomography (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, contohnya pada kasus stroke hiperakut.
Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan investigasi CT scan atau MRI. Kedua investigasi tersebut juga bisa membantu memilih penyebab dari stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh darah/getah bening melalui kapilaroskopi atau fluoroskopi.
Penanganan Stroke
Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan investigasi untuk memilih apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.
Penelitian terakhir memperlihatkan bahwa kelumpuhan dan tanda-tanda lainnya bisa dicegah atau dipulihkan kalau recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam sesudah timbulnya stroke.
Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak lantaran akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.
Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan kalau telah terjadi completed stroke.
Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki pedoman darah ke tempat tersebut tidak akan sanggup mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan.
Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan sesudah stroke ringan atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.
Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, jalan masuk pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit lantaran penekanan).
Stroke biasanya tidak bangun sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati contohnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.
Masih Ada Harapan Untuk Sembuh
Ada sekitar 30%-40% penderita stroke yang masih sanggup sembuh secara tepat asalkan ditangani dalam jangka waktu 6 jam atau kurang dari itu. Hal ini penting semoga penderita tidak mengalami kecacatan. Kalaupun ada tanda-tanda sisa menyerupai jalannya pincang atau berbicaranya pelo, namun tanda-tanda sisa ini masih bisa disembuhkan.
Sayangnya, sebagian besar penderita stroke gres tiba ke rumah sakit 48-72 jam sesudah terjadinya serangan. Bila demikian, tindakan yang perlu dilakukan yakni pemulihan. Tindakan pemulihan ini penting untuk mengurangi komplikasi akhir stroke dan berupaya mengembalikan keadaan penderita kembali normal menyerupai sebelum serangan stroke.
Upaya untuk memulihkan kondisi kesehatan penderita stroke sebaiknya dilakukan secepat mungkin, idealnya dimulai 4-5 hari sesudah kondisi pasien stabil. Tiap pasien membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan pasien. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 6-12 bulan.
Life style, Pencetus Stroke Usia Produktif
Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin renta usia maka risiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, kini kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke sanggup menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi masakan berlemak dan narkoba (walau belum mempunyai angka yang pasti).
Life style alias gaya hidup selalu menjadi kambing hitam banyak sekali penyakit yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan contoh makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi masakan siap saji yang sarat dengan lemak dan kolesterol tapi rendah serat.
Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang untuk bisa berkiprah dan bersaing dengan sumber daya insan lain dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akhir serangan stroke, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi juga beban masyarakat secara umum.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Selagi stroke masih bisa dicegah, kenapa tidak mencoba?
Pertama, dengan menjalankan sikap hidup sehat semenjak dini. Kedua, pengendalian faktor-faktor risiko secara optimal harus dijalankan. Ketiga, melaksanakan medical check up secara rutin dan terpola dan si pasien harus mengenali tanda-tanda dini stroke.
Untuk mencegah "the silent killer" ini maka seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melaksanakan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan. Expert Review
Prof. Dr. H. Jusuf Misbach, SpS (K), FAAN yang kini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) menjelaskan bahwa serangan stroke timbulnya mendadak tanpa peringatan. Namun, gotong royong ada yang bisa dijadikan tanda yaitu penyakit-penyakit dan kondisi tertentu yang termasuk ke dalam faktor risiko stroke.
Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam risiko stroke yakni hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa termasuk dalam kondisi tertentu yang merupakan risiko stroke.
"Kadar kolesterol yang tinggi (hiperkolesterol) memang merupakan faktor risiko stroke lantaran memperburuk proses arteriosklerotik, yaitu mempertebal dan merusak dinding pembuluh darah secara berangsur-angsur," ungkap Prof. Jusuf Misbach. Jadi, makanan-makanan yang kaya kolesterol menyerupai junk food sanggup membahayakan dan mempercepat kemungkinan timbulnya stroke.
Usia merupakan faktor risiko stroke lantaran proses penuaan terjadi pada semua organ tubuh termasuk pembuluh darah otak yang menjadi rapuh. Di Indonesia ternyata stroke timbul banyak pada usia di bawah 45 tahun, dimana karir sedang menanjak.
Demikian pula pada usia 45-60 tahun dimana seseorang sedang berada pada puncak karirnya. "Jika terkena stroke, penyakit dengan angka presentasi keganjilan terbesar, maka habislah karirnya," tambah Prof Jusuf Misbach.
Masyarakat tidak menyadari bahwa angka janjkematian stroke di Indonesia sangat tinggi, dimana sekitar seperempatnya meninggal dunia. Untuk mencegah keganjilan atau kelumpuhan pada serangan stroke, disuntikan recombinant tissue plasminogen activator kurang dari 3 jam.
Prof. Jusuf Misbach menyampaikan bahwa berdasarkan data dari seluruh dunia termasuk Indonesia, perawatan di Unit Stroke sanggup menurunkan angka kematian, memperpendek masa perawatan di Rumah Sakit, dan memperbaiki kualitas hidup. Unit Stroke terdiri dari banyak sekali dokter andal (multidisipliner) menyerupai seorang andal saraf, seorang andal penyakit dalam (diabetes mellitus, jantung), seorang andal bedah, dan psikiater.
Penderita stroke akan menjalani tahap neuro restorasi sesudah fase akut dan sub akut stroke terlewati. Dalam tahap ini penderita harus minum obat untuk mengendalikan faktor risiko dan menjalani fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan tubuh menyerupai semula.
Bahaya yang menghantui penderita stroke yakni serangan stroke berulang yang sanggup fatal atau kwalitas hidup yang lebih jelek dari serangan pertama. Bahkan ada pasien Prof Jusuf Misbach yang mengalami serangan stroke sebanyak 6-7 kali. Hal ini disebabkan pasien tersebut tidak mengendalikan faktor risiko stroke.
Disamping itu beban pengobatan dan rawat jalan sangat memberatkan ekonomi keluarga lantaran kepala keluarga tak bisa bekerja lagi. Apalagi pengobatan faktor risiko harus diteruskan seumur hidup.
Jangan tunggu hingga terjadi serangan stroke, lebih baik melaksanakan deteksi dini akan faktor risiko stroke untuk menghindari stroke. Memeriksakan diri ke dokter untuk mendeteksi adanya faktor-faktor risiko stroke yang sanggup dikendalikan contohnya hipertensi, diabetes, merokok, penyakit jantung, kolesterol dan trigliserida yang tinggi, kegemukan. Semua faktor risiko sanggup dikendalikan kecuali usia, suku bangsa dan gender.
Prof. Jusuf Misbach juga menyebutkan bahwa olahraga dan kehidupan beragama yang sungguh-sungguh juga tak kalah pentingnya, lantaran selain menghilangkan stres juga menyehatkan lahir-batin.
Ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Prof. Dr. Harmani Kalim, MPH, SpJP (K), FIHA, FASCC, menjelaskan bahwa penyakit jantung akrab kaitannya dengan stroke lantaran mempunyai penyebab yang sama yaitu hiperkolesterol. Pada penderita jantung, risiko stroke akan meningkat. Demikian sebaliknya, penderita stroke mempunyai risiko penyakit jantung yang meningkat pula.
Kendalikan faktor risiko penyakit menyerupai kadar kolesterol, kadar gula, kadar lemak semoga tidak menjelma stroke. Biasanya diberikan obat pengencer darah yaitu asetosal, obat penurun kadar kolesterol dari golongan statin menyerupai simvastatin, atorvastatin, lovastatin, dll.
Hiperkolesterol mengakibatkan terjadinya gangguan pembuluh darah yang paling umum yaitu aterosklerosis. Gejala aterosklerosis yakni bentuk arteriosklerosis dengan timbunan zat lemak di dalam dan di bawah lapisan intima dinding pembuluh arteri besar dan sedang, yaitu pembuluh serebral, vetebral, koroner, renal, aorta dan pembuluh di tungkai.
Prof. Harmani Kalim memberitahukan bahwa ada upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit jantung koroner dan stroke. Upaya pencegahan dibagi menjadi primer dan sekunder. Pencegahan primer sanggup dilakukan pada orang yang belum pernah mengalami aterosklerosis. Caranya dengan cara ubah gaya hidup, olahraga, kurangi stres, tambah serta kurangi kolesterol dan berhenti merokok.
Pencegahan sekunder sanggup dilakukan bila sudah terjadi tanda-tanda klinik aterosklerosis disebut dengan abreviasi ABCDEFG yaitu:
A Asetosal, ace-inhibitor, antikoagulan: minum obat-obatan untuk kendalikan penyakit faktor risiko.
B Beta blocker, body weight reduction: minum obat dan menurunkan berat badan.
C Cholesterol control & cigarette smoking cessation: kendalikan kolesterol & berhenti merokok.
D Diabetes control & diet: kendalikan diabetes dan makanan.
E Exercise & education: olahraga dan menambah pengetahuan.
F Family support: pemberian keluarga.
G Glucose oxidation preservation: memelihara oksidasi glukosa tubuh.
Sesibuk apa pun kita pada usia produktif, tetap harus menjaga kesehatan. Jika hanya berjuang mengejar karir tanpa memperhatikan kesehatan, maka perjuangan tersebut akan sia-sia bila kemudian di puncak karir terkena serangan stroke.
Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta sanggup mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Jadi, jangan tidak peduli akan ancaman stroke, melainkan hadapi dengan mulai menjalankan gaya hidup yang sehat.
Kontributor :
Prof. Dr. H Jusuf Misbach, Sp.S (K), FAAN
Prof Jusuf Misbach yakni Ketua Perhimpunan Spesialis Dokter Saraf Indonesia periode 2003-2007. Beliau merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1966. Beliau gres saja kembali dari The 59th Annual Meeting of The American Academy of Neurology di Boston, Amerika dimana Prof Jusuf Misbach telah menjadi anggota semenjak 5 tahun yang lalu. Prof Jusuf Misbach masih aktif sebagai pembicara dan narasumber untuk media massa baik cetak, elektronik maupun on line serta sering memperlihatkan seminar. Kini, Prof Jusuf Misbach berpraktek di RSCM dan RS MMC.
Prof. Dr. Harmani Kalim, MPH, Sp.Jp
Prof Harmani merupakan lulusan FKUI tahun 1968. Beliau melanjutkan studinya di Tulane University tahun 1972 dan lulus dari spesialisas jantung pada tahun 1983. Prof Harmani Kalim gres saja menjadi ketua pelaksana 16th ASEAN Congress of Cardiology di Bali bulan April 2007 kemarin. Beliau merupakan anggota Indonesian Heart Association dan ASEAN Congres of Cardiology. Prof Harmani Kalim kini berpraktek di Poli Umum dan Poli Eksekutif RS Jantung Harapan Kita.
Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Kecenderungannya menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta sanggup mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.
Tidak sanggup dipungkiri bahwa peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan wabah kegemukan akhir contoh makan kaya lemak atau kolesterol yang melanda di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan sesudah jantung dan kanker. Bahkan, berdasarkan survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia.
Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan hingga sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur.
Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan janjkematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi lantaran berkurangnya pedoman darah dan oksigen ke otak. WHO mendefinisikan bahwa stroke yakni gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.
Mengenali Jenis-jenis Stroke
Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemorragik. Pada stroke iskemik, pedoman darah ke otak terhenti lantaran aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini.
Pada stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat pedoman darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu tempat di otak dan merusaknya. Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi pada penderita hipertensi.
Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung.
Suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga mengakibatkan berkurangnya pedoman darah. Keadaan ini sangat serius lantaran setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memperlihatkan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.
Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat lantaran adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, contohnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang gres menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).
Emboli lemak jarang mengakibatkan stroke. Emboli lemak terbentuk kalau lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam pedoman darah dan karenanya bergabung di dalam sebuah arteri.
Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi mengakibatkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan mengakibatkan stroke.
Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa mengakibatkan berkurangnya pedoman darah ke otak, yang biasanya mengakibatkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi kalau tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi kalau seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak lantaran cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.
Ketahui Faktor Risiko Stroke
Penyakit atau keadaan yang mengakibatkan atau memperparah stroke disebut dengan Faktor Risiko Stroke. Penyakit tersebut di atas antara lain Hipertensi, Penyakit Jantung, Diabetes Mellitus, Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Keadaan yang sanggup mengakibatkan stroke yakni usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa (negro/spanyol), jenis kelamin (pria), kurang olah raga.
Membaca Gejala Stroke
Sebagian besar kasus stroke terjadi secara mendadak, sangat cepat dan mengakibatkan kerusakan otak dalam beberapa menit (completed stroke). Kemudian stroke menjadi bertambah jelek dalam beberapa jam hingga 1-2 hari akhir bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution).
Perkembangan penyakit biasanya (tetapi tidak selalu) diselingi dengan periode stabil, dimana ekspansi jaringan yang mati berhenti sementara atau terjadi beberapa perbaikan. Gejala stroke yang muncul pun tergantung dari penggalan otak yang terkena.
Membaca isyarat stroke sanggup dilakukan dengan mengamati beberapa tanda-tanda stroke berikut:
Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh.
Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran.
Penglihatan ganda.
Pusing.
Bicara tidak terang (rero).
Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat.
Tidak bisa mengenali penggalan dari tubuh.
Pergerakan yang tidak biasa.
Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.
Ketidakseimbangan dan terjatuh.
Pingsan.
Kelainan neurologis yang terjadi akhir serangan stroke bisa lebih berat atau lebih luas, berafiliasi dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa mengakibatkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi.
Stroke juga bisa mengakibatkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya lantaran ruang dalam tengkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas.
Mendiagnosis Stroke
Diagnosis stroke biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil investigasi fisik. Pemeriksaan fisik sanggup membantu memilih lokasi kerusakan pada otak. Ada dua jenis teknik investigasi imaging (pencitraan) untuk mengevaluasi kasus stroke atau penyakit pembuluh darah otak (Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed Tomography (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, contohnya pada kasus stroke hiperakut.
Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan investigasi CT scan atau MRI. Kedua investigasi tersebut juga bisa membantu memilih penyebab dari stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh darah/getah bening melalui kapilaroskopi atau fluoroskopi.
Penanganan Stroke
Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan investigasi untuk memilih apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.
Penelitian terakhir memperlihatkan bahwa kelumpuhan dan tanda-tanda lainnya bisa dicegah atau dipulihkan kalau recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam sesudah timbulnya stroke.
Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak lantaran akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.
Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan kalau telah terjadi completed stroke.
Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki pedoman darah ke tempat tersebut tidak akan sanggup mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan.
Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan sesudah stroke ringan atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.
Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, jalan masuk pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit lantaran penekanan).
Stroke biasanya tidak bangun sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati contohnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.
Masih Ada Harapan Untuk Sembuh
Ada sekitar 30%-40% penderita stroke yang masih sanggup sembuh secara tepat asalkan ditangani dalam jangka waktu 6 jam atau kurang dari itu. Hal ini penting semoga penderita tidak mengalami kecacatan. Kalaupun ada tanda-tanda sisa menyerupai jalannya pincang atau berbicaranya pelo, namun tanda-tanda sisa ini masih bisa disembuhkan.
Sayangnya, sebagian besar penderita stroke gres tiba ke rumah sakit 48-72 jam sesudah terjadinya serangan. Bila demikian, tindakan yang perlu dilakukan yakni pemulihan. Tindakan pemulihan ini penting untuk mengurangi komplikasi akhir stroke dan berupaya mengembalikan keadaan penderita kembali normal menyerupai sebelum serangan stroke.
Upaya untuk memulihkan kondisi kesehatan penderita stroke sebaiknya dilakukan secepat mungkin, idealnya dimulai 4-5 hari sesudah kondisi pasien stabil. Tiap pasien membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan pasien. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 6-12 bulan.
Life style, Pencetus Stroke Usia Produktif
Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin renta usia maka risiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, kini kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke sanggup menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi masakan berlemak dan narkoba (walau belum mempunyai angka yang pasti).
Life style alias gaya hidup selalu menjadi kambing hitam banyak sekali penyakit yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan contoh makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi masakan siap saji yang sarat dengan lemak dan kolesterol tapi rendah serat.
Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang untuk bisa berkiprah dan bersaing dengan sumber daya insan lain dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akhir serangan stroke, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi juga beban masyarakat secara umum.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Selagi stroke masih bisa dicegah, kenapa tidak mencoba?
Pertama, dengan menjalankan sikap hidup sehat semenjak dini. Kedua, pengendalian faktor-faktor risiko secara optimal harus dijalankan. Ketiga, melaksanakan medical check up secara rutin dan terpola dan si pasien harus mengenali tanda-tanda dini stroke.
Untuk mencegah "the silent killer" ini maka seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melaksanakan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan. Expert Review
Prof. Dr. H. Jusuf Misbach, SpS (K), FAAN yang kini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) menjelaskan bahwa serangan stroke timbulnya mendadak tanpa peringatan. Namun, gotong royong ada yang bisa dijadikan tanda yaitu penyakit-penyakit dan kondisi tertentu yang termasuk ke dalam faktor risiko stroke.
Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam risiko stroke yakni hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa termasuk dalam kondisi tertentu yang merupakan risiko stroke.
"Kadar kolesterol yang tinggi (hiperkolesterol) memang merupakan faktor risiko stroke lantaran memperburuk proses arteriosklerotik, yaitu mempertebal dan merusak dinding pembuluh darah secara berangsur-angsur," ungkap Prof. Jusuf Misbach. Jadi, makanan-makanan yang kaya kolesterol menyerupai junk food sanggup membahayakan dan mempercepat kemungkinan timbulnya stroke.
Usia merupakan faktor risiko stroke lantaran proses penuaan terjadi pada semua organ tubuh termasuk pembuluh darah otak yang menjadi rapuh. Di Indonesia ternyata stroke timbul banyak pada usia di bawah 45 tahun, dimana karir sedang menanjak.
Demikian pula pada usia 45-60 tahun dimana seseorang sedang berada pada puncak karirnya. "Jika terkena stroke, penyakit dengan angka presentasi keganjilan terbesar, maka habislah karirnya," tambah Prof Jusuf Misbach.
Masyarakat tidak menyadari bahwa angka janjkematian stroke di Indonesia sangat tinggi, dimana sekitar seperempatnya meninggal dunia. Untuk mencegah keganjilan atau kelumpuhan pada serangan stroke, disuntikan recombinant tissue plasminogen activator kurang dari 3 jam.
Prof. Jusuf Misbach menyampaikan bahwa berdasarkan data dari seluruh dunia termasuk Indonesia, perawatan di Unit Stroke sanggup menurunkan angka kematian, memperpendek masa perawatan di Rumah Sakit, dan memperbaiki kualitas hidup. Unit Stroke terdiri dari banyak sekali dokter andal (multidisipliner) menyerupai seorang andal saraf, seorang andal penyakit dalam (diabetes mellitus, jantung), seorang andal bedah, dan psikiater.
Penderita stroke akan menjalani tahap neuro restorasi sesudah fase akut dan sub akut stroke terlewati. Dalam tahap ini penderita harus minum obat untuk mengendalikan faktor risiko dan menjalani fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan tubuh menyerupai semula.
Bahaya yang menghantui penderita stroke yakni serangan stroke berulang yang sanggup fatal atau kwalitas hidup yang lebih jelek dari serangan pertama. Bahkan ada pasien Prof Jusuf Misbach yang mengalami serangan stroke sebanyak 6-7 kali. Hal ini disebabkan pasien tersebut tidak mengendalikan faktor risiko stroke.
Disamping itu beban pengobatan dan rawat jalan sangat memberatkan ekonomi keluarga lantaran kepala keluarga tak bisa bekerja lagi. Apalagi pengobatan faktor risiko harus diteruskan seumur hidup.
Jangan tunggu hingga terjadi serangan stroke, lebih baik melaksanakan deteksi dini akan faktor risiko stroke untuk menghindari stroke. Memeriksakan diri ke dokter untuk mendeteksi adanya faktor-faktor risiko stroke yang sanggup dikendalikan contohnya hipertensi, diabetes, merokok, penyakit jantung, kolesterol dan trigliserida yang tinggi, kegemukan. Semua faktor risiko sanggup dikendalikan kecuali usia, suku bangsa dan gender.
Prof. Jusuf Misbach juga menyebutkan bahwa olahraga dan kehidupan beragama yang sungguh-sungguh juga tak kalah pentingnya, lantaran selain menghilangkan stres juga menyehatkan lahir-batin.
Ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Prof. Dr. Harmani Kalim, MPH, SpJP (K), FIHA, FASCC, menjelaskan bahwa penyakit jantung akrab kaitannya dengan stroke lantaran mempunyai penyebab yang sama yaitu hiperkolesterol. Pada penderita jantung, risiko stroke akan meningkat. Demikian sebaliknya, penderita stroke mempunyai risiko penyakit jantung yang meningkat pula.
Kendalikan faktor risiko penyakit menyerupai kadar kolesterol, kadar gula, kadar lemak semoga tidak menjelma stroke. Biasanya diberikan obat pengencer darah yaitu asetosal, obat penurun kadar kolesterol dari golongan statin menyerupai simvastatin, atorvastatin, lovastatin, dll.
Hiperkolesterol mengakibatkan terjadinya gangguan pembuluh darah yang paling umum yaitu aterosklerosis. Gejala aterosklerosis yakni bentuk arteriosklerosis dengan timbunan zat lemak di dalam dan di bawah lapisan intima dinding pembuluh arteri besar dan sedang, yaitu pembuluh serebral, vetebral, koroner, renal, aorta dan pembuluh di tungkai.
Prof. Harmani Kalim memberitahukan bahwa ada upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit jantung koroner dan stroke. Upaya pencegahan dibagi menjadi primer dan sekunder. Pencegahan primer sanggup dilakukan pada orang yang belum pernah mengalami aterosklerosis. Caranya dengan cara ubah gaya hidup, olahraga, kurangi stres, tambah serta kurangi kolesterol dan berhenti merokok.
Pencegahan sekunder sanggup dilakukan bila sudah terjadi tanda-tanda klinik aterosklerosis disebut dengan abreviasi ABCDEFG yaitu:
A Asetosal, ace-inhibitor, antikoagulan: minum obat-obatan untuk kendalikan penyakit faktor risiko.
B Beta blocker, body weight reduction: minum obat dan menurunkan berat badan.
C Cholesterol control & cigarette smoking cessation: kendalikan kolesterol & berhenti merokok.
D Diabetes control & diet: kendalikan diabetes dan makanan.
E Exercise & education: olahraga dan menambah pengetahuan.
F Family support: pemberian keluarga.
G Glucose oxidation preservation: memelihara oksidasi glukosa tubuh.
Sesibuk apa pun kita pada usia produktif, tetap harus menjaga kesehatan. Jika hanya berjuang mengejar karir tanpa memperhatikan kesehatan, maka perjuangan tersebut akan sia-sia bila kemudian di puncak karir terkena serangan stroke.
Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta sanggup mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Jadi, jangan tidak peduli akan ancaman stroke, melainkan hadapi dengan mulai menjalankan gaya hidup yang sehat.
Kontributor :
Prof. Dr. H Jusuf Misbach, Sp.S (K), FAAN
Prof Jusuf Misbach yakni Ketua Perhimpunan Spesialis Dokter Saraf Indonesia periode 2003-2007. Beliau merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1966. Beliau gres saja kembali dari The 59th Annual Meeting of The American Academy of Neurology di Boston, Amerika dimana Prof Jusuf Misbach telah menjadi anggota semenjak 5 tahun yang lalu. Prof Jusuf Misbach masih aktif sebagai pembicara dan narasumber untuk media massa baik cetak, elektronik maupun on line serta sering memperlihatkan seminar. Kini, Prof Jusuf Misbach berpraktek di RSCM dan RS MMC.
Prof. Dr. Harmani Kalim, MPH, Sp.Jp
Prof Harmani merupakan lulusan FKUI tahun 1968. Beliau melanjutkan studinya di Tulane University tahun 1972 dan lulus dari spesialisas jantung pada tahun 1983. Prof Harmani Kalim gres saja menjadi ketua pelaksana 16th ASEAN Congress of Cardiology di Bali bulan April 2007 kemarin. Beliau merupakan anggota Indonesian Heart Association dan ASEAN Congres of Cardiology. Prof Harmani Kalim kini berpraktek di Poli Umum dan Poli Eksekutif RS Jantung Harapan Kita.