Mencegah Stroke Berulang



Siapapun yang pernah mengalami stroke, berusahalah supaya serangan itu tak terulang. Tahukah Anda, stroke berulang bisa lebih dahsyat dibanding serangan sebelumnya. Karena itu, cegahlah stroke berulang sebelum terlambat.

Stroke terjadi jawaban tersumbatnya peredaran darah pada otak dengan tanda-tanda spontan. Sumbatan itu terjadi jawaban interupsi fatwa darah otak secara mendadak atau pecahnya pembuluh darah otak. Dengan kata lain, stroke terjadi bila pembuluh darah yang mengangkut oksigen dan materi masakan ke otak dan di dalam otak tersumbat atau pecah.

Mengapa terjadi penyumbatan pembuluh darah? Itu lantaran otak membutuhkan banyak oksigen. Otak sendiri mengandalkan oksigen pada peredaran darah. Itulah sebabnya, jikalau suplai oksigen terhenti akan terjadi radang fungsi otak. Apabila oksigen terhenti lama, penderita bisa merasa pusing, pingsan, bahkan hingga lumpuh.

Menurut cara terjadinya, ungkap Prof Dr Jusuf Misbach SpS (K), ada dua macam stroke, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik mencakup kurang lebih 88 persen dari semua stroke. Stroke jenis ini terjadi dikala fatwa darah ke otak secara tiba-tiba terhambat. Hambatan mendadak ini menjadikan sel-sel dan jaringan otak mati lantaran tidak lagi mendapatkan oksigen dan materi masakan dari darah.

Stroke hemoragik, masih berdasarkan Jusuf, terjadi dikala pembuluh darah di otak pecah. Pecahnya pembuluh darah menjadikan darah mengalir ke rongga sekitar jaringan otak. Karena tidak mendapatkan oksigen dan materi masakan dari darah, sel-sel dan jaringan otak pun akan mati. ''Kematian jaringan otak akan terjadi dalam waktu 4 - 10 menit sesudah suplai darah terhenti,'' tutur dokter seorang andal penyakit syaraf yang menjabat sebagai kepala Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini.

Data menunjukkan, setiap tahunnya stroke menyerang sekitar 15 juta orang di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, lebih kurang lima juta orang pernah mengalami stroke. Sementara di Inggris, terdapat 250 ribu orang hidup dengan abnormalitas lantaran stroke. Di Asia, khususnya di Indonesia, setiap tahun diperkirakan 500 ribu orang mengalami serangan stroke. Dari jumlah itu, sekitar 2,5 persen di antaranya meninggal dunia. Sementara sisanya mengalami cacat ringan maupun berat.

Faktor risiko dan gejala
Belakangan, stroke tidak hanya menyerang orang yang sering atau sedang sakit, tapi bisa juga dialami oleh mereka yang secara fisik tampak sehat. Bahkan, orang yang rajin berolahraga pun bisa mengalaminya. Itu, antara lain, jawaban mutu stres yang makin tinggi dan efek sarana hidup yang kian modern.

Mengenai faktor risiko, ada beberapa faktor risiko stroke yang tidak sanggup dikontrol. Misalnya, riwayat keluarga yang menderita penyakit jantung, faktor usia, dan jenis kelamin. Dibandingkan laki-laki, wanita lebih rentan terjangkit stroke. Orang yang berusia di atas 55 tahun juga lebih berisiko mengalami stroke dibanding mereka yang berusia lebih muda.

Selain itu, ada sejumlah faktor risiko yang bisa dicegah. Semisal, mengidap penyakit diabetes mellitus, sering meminum alkohol, kadar kolesterol tinggi, kurang berolahraga, tekanan darah tinggi, merokok, dan kegemukan (obesitas). ''Risiko terjangkit stroke akan meningkat dengan adanya faktor-faktor tersebut,'' kata Jusuf.

Selain faktor risiko, stroke juga mempunyai sejumlah gejala, antara lain: mengalami gangguan gerak sehingga tak bisa untuk mengambil gelas, menggosok gigi, atau memasang kacing dengan sempurna. Dalam tingkat yang lebih parah, terjadi lumpuh total yang bisa menimpa tiap organ gerak, termasuk bibir, wajah, dan mata.

Gejala stroke juga bisa tampak dari gangguan rasa, menyerupai pada sebelah anggota badan, dari yang ringan (kesemutan) hingga yang berat (baal). Gangguan kesadaran juga bisa terjadi, contohnya gampang mengantuk hingga tampak menyerupai koma. Demikian juga dengan gangguan verbal, baik lantaran organ bicara yang rusak maupun daya ingat yang turun, contohnya dalam bentuk tidak bisa mengeluarkan kata dan menangkap arti.

Setelah serangan yang pertama, stroke terkadang bisa terjadi lagi dengan kondisi yang lebih parah. Ini umumnya terjadi pada penderita yang kurang kontrol diri, atau bisa jadi sudah merasa puas sesudah mengalami penyembuhan (pasca stroke yang pertama) sehingga tidak lagi memeriksakan diri. Padahal, jikalau stroke hingga berulang, artinya terjadi perdarahan yang lebih luas di otak sehingga kondisinya bisa lebih parah dari serangan pertama. Riset menunjukkan, di antara orang-orang yang pernah mengalami stroke, sekitar 40 persen di antaranya akan mengalami stroke berulang dalam waktu lima tahun. Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk mencegah terulangnya serangan stroke? Yang pertama, kata Jusuf, hindari faktor risiko. Jalani referensi hidup dan referensi makan sehat, contohnya dengan berolahraga secara teratur dan hindari masakan berkolesterol tinggi. Usahakan kadar kolesterol darah selalu dalam batas normal. Satu hal lagi, jangan segan untuk kontrol ke dokter secara rutin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel