Agar Tak Terserang Penyakit Menular

Penyakit menular 'bertebaran' di sekitar kita. Penyebabnya macam-macam. Bisa virus, bakteri, atau jamur. Akibat yang ditimbulkan? Tak kalah ragamnya.
Ada yang cuma menyebabkan sakit ringan, ibarat gatal-gatal, namun tak sedikit yang menciptakan nyawa melayang.

Cara penularannya juga sangat beraneka. Seperti dijelaskan dokter Soedjatmiko SpA(K) MSi, seorang mahir anak dan konsultan tumbuh kembang - pediatri sosial Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), ada enam cara penularan penyakit, yaitu:

1. Melalui udara (percikan ingus, ludah, dahak kemudian masuk ke susukan napas. Bisa juga masuk ke anutan darah kemudian menyebar ke organ tubuh). Contoh penyakitnya adalah: TBC, difteri, batuk rejan (pertusis), campak, influenza, radang paru, radang otak (meningitis).

2. Melalui air: Muntah berak, disentri, polio, demam tifoid, hepatitis A. * Melalui binatang: Demam berdarah, malaria, flu burung, leptospirosis, rabies, pes, ensefalitis.

3. Melalui darah/transfusi: hepatitis B, C, HIV/AIDS, dan lain-lain.

4. Kontak kulit: cacar, lepra, frambusia, antraks, dan lain-lain.

5. Hubungan seksual: HIV/AIDS, gonorhoe, sifilis, herpes.

Walau penyakit menular sangat bermacam-macam dengan beberapa di antaranya sangat berbahaya, tak perlu cemas berlebihan. Sebab, kata Soejatmiko, kita sanggup melaksanakan langkah pencegahan. ''Dibanding pengobatan yang membutuhkan banyak dana, upaya pencegahan sanggup dilakukan dengan relatif murah dan mudah,'' kata Soejatmiko saat berbicara dalam sebuah lembaga media edukasi di Jakarta, beberapa waktu berselang.

Untuk mencegah penyakit-penyakit menular itu, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan yakni, menerapkan sikap hidup bersih, menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi masakan dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang, istirahat cukup, dan imunisasi teratur.

Imunisasi/vaksinasi, berdasarkan Soejatmiko, merupakan upaya pencegahan primer untuk mencegah penyakit infeksi dengan memasukkan vaksin (produk imunobiologik, sebagai antigen) ke dalam badan manusia. Dengan cara ini akan terbentuk antibodi sehingga si anak terhindar dari penyakit, tidak menularkan penyakit itu pada individu lain, dan balasannya sanggup tetapkan transmisi penyakit. ''Vaksinasi bertujuan melindungi seseorang terhadap penyakit tertentu, menurunkan prevalensi penyakit sehingga tercapai eradikasi penyakit,'' sambung sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.

Hanya saja, tak semua penyakit menular sanggup dicegah dengan imunisasi. Muntah berak, disentri, demam berdarah, amlaria, flu burung, dan leptospirosis ialah teladan penyakit menular yang tak sanggup dicegah dengan imunisasi. Namun, banyak juga penyakit yang sanggup dicegah dengan imunisasi. Sebut saja misalnya, TBC, difteri, tetanus, polio, campak, hepatitis A, B, influenza, pneumonia (radang paru), meningitis (radang otak), cacar air, campak Jerman, gondongan, rabies, dan demam tifoid.

Banyak orang bertanya, sesudah diimunisasi, masih bisakah tertular penyakit-penyakit itu? ''Ya, masih bisa. Tetapi jauh lebih ringan, tidak berbahaya,'' kata dokter yang juga menjabat sebagai ketua III Pengurus Pusat IDAI ini. Lain halnya kalau seseorang tertular penyakit dalam keadaan belum diimunisasi. Biasanya, penyakit yang muncul jauh lebih berat, berbahaya, bahkan sanggup menjadikan janjkematian atau kecacatan.

Karena itu, jangan ragu-ragu untuk melaksanakan imunisasi. Untuk bayi Anda, pastikan ia telah mendapat imunisasi wajib (BCG, hepatitis B, polio, DPT, dan campak). Selain itu, ada beberapa jenis imunisasi pemanis yang dianjurkan, yakni: Hib, pneumokokus, influenza, MMR (untuk mencegah penyakit gondong, campak, dan campak Jerman), tifoid, hepatitis A, dan varisela.

Walau sudah berniat untuk menawarkan imunisasi pada anaknya, terkadang para ibu menjadi ragu tatkala mendapati anaknya pilek dan batuk. Menurut Soejatmiko, anak yang sedang batuk pilek boleh-boleh saja diimunisasi, asalkan tidak demam dan tidak rewel. ''Kalau bayi sangat rewel, tunda imunisasi selama satu hingga dua minggu.''

Bagaimana kalau anak sedang minum obat antibiotik? ''Boleh,'' ujar Soejatmiko. Lain halnya dengan anak yang sedang minum prednison takaran tinggi. Imunisasi mesti ditunda setengah hingga tiga bulan. Selain itu, sebelum imunisasi, jangan segan memberitahu kondisi Anda atau anak Anda kepada dokter. Beberapa kondisi di bawah ini mesti Anda beritahukan kepada dokter:

1. Mengalami panas tinggi, bengkak, kejang, atau sakit berat pada imunisasi sebelumnya.

2. Alergi, ibarat alergi telur, neomycin, polymixin.

3. Sedang mendapat obat steroid, antikanker, radioaktif.

4. Sedang sakit leukemia, kanker, HIV/AIDS.

5. Tinggal serumah dengan orang sakit leukemia, kanker, HIV/AIDS, sedang mendapat pengobatan steroid, antikanker, radioterapi.

6. Dalam tiga bulan terakhir mendapat transfusi darah atau suntikan imunoglobulin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel